Overeating VS Binge Eating

Pada postingan sebelumnya, saya sempat membahas mengenai binge eating, keadaan di mana seseorang cenderung makan berlebihan dalam jangka waktu tertentu walaupun tidak merasa lapar, diikuti dengan perasaan malu, sedih, atau penyesalan setelahnya.

Pertanyaan yang sering ditanyakan adalah: bagaimana membedakan antara over eating dan binge eating? (PS. perlu dicatat bahwa keduanya sama-sama tidak sehat, bedanya binge eating merupakan masalah psikologis dan terjadi secara rutin).

Saya bukan ahli yang mungkin bisa menjawab pertanyaan ini secara 100%. Namun, secara umum, ini adalah perbedaan mendasar:

  • Durasi.
    • Binge eating adalah over eating dalam jangka waktu pendek, yang terjadi secara berulang, minimal satu kali dalam seminggu dalam jangka waktu 3 bulan. Jadi, jika hanya 1 kali makan berlebih karena ada pesta BBQ, jangan langsung khawatir bahwa itu adalah binge eating.
  • Kontrol.
    • Penderita binge eating sering merasa tidak bisa mengendalikan diri mereka di sesi binge terjadi. Ini memang agak rancu dengan lemahnya willpower, tapi menurut saya, saat episode binge eating terjadi, sungguh deh, rasanya ngunyah dan menelan itu sudah otomatis saja – bahkan di saat makanan yang ada sebenernya tidak terlalu disukai. Kalau saya disajikan cheesecake dan akhirnya tidak bisa menolak, itu lemahnya willpower tetapi kalau saya tidak berhenti ngunyah memakan semua hal yang bisa saya beli, apakah itu benar-benar willpower?
  • Emosi.
    • Merasa sedih, menyesal dan malu setelah sesi binge eating, diikuti dengan diet berlebih di kemudian hari merupakan tanda penting bagi mereka yang mengalami binge eating.

Hari ini, misalnya, saya makan agak berlebih – setelah 3 hari berhasil untuk makan dengan benar. Namun, untuk pertama kalinya, saya merasa bahwa makan berlebih ini semata-mata karena lemahnya willpower, dan bukan karena sesi binge eating. Maklum, yang disajikan adalah salah satu menu favorit: gorengan. Duh, kok rasanya susah luar biasa untuk menolak ‘racun’ yang ini!

Selain itu, saya menyantapnya secara sadar, dalam artian, selama 3 jam – saya menyantap gorengan yang ada di meja, secara perlahan-lahan dan di saat ada kawan saya. Artinya, tidak ada lagi rasa malu untuk makan (walaupun agak berlebih) di depan orang lain. Lebih penting lagi, walaupun agak berlebih, saya berhenti di saat saya mulai merasa kenyang. Biasanya, saya akan lari ke supermarket di jalan pulang, beli snack lainnya, dan makan di jalan atau di kamar.

Walaupun saya tidak bangga karena saya makan 400-500 kcal extra dari quota kalori saya hari ini, saya cukup senang karena saya tidak merasa depresi atau sedih setelahnya. Saya juga cukup bangga karena saya bisa berhenti nyomot gorengan itu di meja dan tidak berkeinginan untuk beli hal lainnya di jalan pulang setelah bertemu kawan saya. As they said, one step at a time. 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s