Lucky you!

“I don’t care if he’s great, I just hope that he’s lucky” – Match Point

Percaya pada yang namanya hoki? I do. Berulang kali saya dengar kalimat “elo sih hokinya gede” ditujukan pada saya. Dan yes! Saya rasa kalimat itu ada benarnya: I have my big luck. 

Saya adalah seorang insan yang percaya bahwa luck memiliki peranan cukup besar dalam hidup. Seberapa besar? Ini dia pertanyaan yang sulit untuk dijawab.  Tapi kalau saya boleh menoleh balik hidup saya, rasanya cukup besar.

Saya hoki bisa dapat kerja yang oke sehabis lulus SMA. Saya hoki bisa dapat nasabah buka polis cukup besar di akhir tahun untuk membawa saya ke Roma gratis. Saya hoki bisa dapat beasiswa ke Belanda. Lagi-lagi, saya hoki bisa langsung dapat kerja yang saya suka di perusahaan beken bahkan sebelum lulus. Dan saat ini, saya sedang menanti hoki-hoki lainnya yang (semoga) terus berdatangan.

eksponensialJangan salah kaprah, saya percaya hoki tidak datang menawarkan dirinya sendiri begitu saja tetapi butuh pemicu untuk menjadikannya ada. Dalam kamus saya, pemicu itu adalah usaha. Untungnya, saya juga percaya bahwa hubungan antara hoki dan usaha dalam mencapai kesuksesan tidaklah liner, melainkan ekponensial: di satu titik usaha tertentu, peranan hoki menjadi sangat besar untuk mencapai sukes.

Semua hoki-hoki yang saya sebutkan di atas datang karena setidaknya ada usaha dari saya untuk mendapatkan apa yang saya mau. Misalnya, saya mencoba untuk mulai mencari kerja sebeum lulus, mempersiapkan interview, dan akhirnya mendapat tawaran yang oke. Hokinya saya adalah ketemu satu lowongan yang saya suka di saat mereka sedang butuh tenaga kerja. Hokinya saya juga adalah mereka suka dengan saya dan memberikan offer yang menarik.

Jadi… lucky me? Yes! lucky me. I do have my big luck. Bagi yang percaya kekuatan alam, anggaplah hoki itu adalah kebetulan yang menyebabkan sesuatu terjadi. Bagi yang percaya Tuhan, anggaplah hoki itu adalah campur tangan Tuhan. Bagi yang percaya spiritualitas, anggaplah hoki itu adalah bantuan dari mahluk alam sana. Apapun itu, saya percaya bahwa ada faktor lain di luar ‘aku’ yang menyebabkan saya menjadi seorang saya. Mencuplik adegan pembuka film Match Point:

“The man who said I’d rather be lucky than good saw deeply into life. People are afraid to face how great a part of life is dependent on luck. It’s scary to think so much is out of one’s control.” – Match Point by Woody Alan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s