911 – gawat darurat….

Bicara mengenai masalah kejiwaan, susah rasanya menentukan kapan kita membutuhkan bantuan profesional. Entah karena ketidakpekaan terhadap masalah yang dihadapi maupun perasaan khawatir akan pandangan masyarakat. Alhasil, semua selalu dianggap ‘hanya stress dan badai pasti berlalu’.

Kenyataannya, hal ini tidak melulu benar: kita sering menganggap enteng kesehatan psikologis. Mari kita simak analisa berikut, berapa banyak dari kita pergi ke dokter saat mengalami batuk-pilek selama beberapa hari? Berapa banyak dari kita pergi ke psikolog setelah mengalami panik attack selama beberapa hari? Tebakan saya, % yang pergi ke dokter setelah 3 hari batuk pilek jauh lebih tinggi ketimbang % yang berobat setelah 3 hari mengalami panic attack. Naasnya, batuk pilek sebenarnya tidak membutuhkan antibiotik (kecuali disebabkan oleh bakteri atau sudah menjadi infeksi) dan akan sembuh dengan sendirinya jika diimbangi dengan istirahat yang cukup. Kebalikannya, panik attack seringkali merupakan gejala akan sesuatu yang lebih serius.

Sebagai anak bangsa yang menetapa di negara lain, kerap kali saya merasa sedih melihat bagaimana respon masyarakat Indonesia terhadap kesehatan psikologis. Entah itu cap “gila” yang semena-mena diberikan kepada orang-orang yang berkonsultasi ke tenaga ahli, maupun bagaimana masyarakat kita mengaggap sebelah mata di kala ada relasi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Perlu kita sadari, bahwa kesehatan psikologis tidak sesederhana ‘gila’ atau ‘tidak gila’. Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan psikologis kita, salah satunya adalah kesehatan fisik. Baru-baru ini, salah satu rekan saya di Jakarta mengalami halusinasi serius, di mana beliau merasa ketakutan seolah-olah ada sekelompok orang yang ingin membunuhnya. Setelah melalui diskusi panjang lebar, kami memutuskan untuk memeriksakan dia ke psikiater. Alhasil, semua halusinasi ini disebabkan oleh kelenjar thyroid yang tidak normal. Pengobatan thyroid yang dijalani berhasil menyembuhkan ‘jiwa’nya dan saat ini dia dapat beraktivitas seperti sediakala.

Lain halnya dengan rekan saya yang lain. Dirinya melulu dihinggapi rasa depresi dan ingin mati, tanpa diketahui oleh orang-orang di sekitarnya. Sejujurnya, saya pribadi bukan pakar depresi, namun ketertarikan akan topik ini mengizinkan saya untuk membaca lebih banyak mengenai depresi. Highlight sederhana mengenai depresi dapat dilihat disini. Rekan saya membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitar untuk peka terhadap gejala-gejala awal dan berjalan bersamanya melewati masa-masa sulit ini. Lebih penting lagi, kita harus peka untuk tahu kapan mereka membutuhkan bantuan profesional. Sungguh, peran kita sangatlah penting bagi mereka.

Sebagai orang awam, saya selalu percaya bahwa akan ada titik di mana kita membutuhkan sang pakar untuk menuntun jalan kita. Jika pakar ini adalah psikolog, biarlah itu terjadi… Jika pakar ini adalah psikiater, maka terjadilah…. Yang terpenting adalah betapa kita terbuka untuk menerima bantuan dari mereka.

Jadi, pekalah untuk tahu kapan kita membutuhkan bantuan, dan jangan malu untuk berteriak minta tolong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s