Pelajaran berharga dari angkat besi

Sekitar 2.5 tahun lalu, saya mulai terlibat dengan komunitas crossfit, sebuah cabang olah raga yang terdiri dari senam lantai (gymnastic), angkat besi (weightlifting), dan cardio conditioning. Walaupun saya penggila olahraga, sebelum menekuni crossfit, saya tidak pernah menyentuh bar dan plates. Sebagian besar program olah raga saya sebatas high intensity training, lari jarak pendek – menengah, dan beberapa strength training menggunakan dumbell atau resistance band.

Setelah putus nyambung dengan crossfit selama 9 bulan, saya menyadari kecintaan saya pada weightlifting jauh lebih besar daripada crossfit. Titik balik itu terjadi sekitar 18 bulan lalu…. Dan semakin hari, saya semakin mencintai olahraga ini.   

Sebagai seseorang yang bisa dibilang baru dalam cabang olahraga ini, saya ingin berbagi apa yang weightlifting ajarkan pada saya:

  1. Percaya pada proses.

Weightlifting merupakan campuran antara teknik dan strength. Kalau gak kuat, ya gak akan bisa angkat beban berat, tapi kalau kuat dan teknik tidak oke, juga tidak akan bisa angkat berat. Naasnya, keduanya butuh waktu.

Bagi seorang saya yang selalu fokus pada hasil akhir, weightlifting mengajarkan saya untuk lebih menghargai proses di saat saya tidak bisa melihat hasil akhir dengan cepat. Percaya pada program yang saya jalani, evaluasi dengan rutin, dan adaptasi demi mencapai hasil akhir yang diinginkan.

  1. Setiap individu adalah unik

Saat saya baru mulai latihan weightlifting, saya sering membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang-orang di sekitar saya. ‘Duh, dia bisa snatch 15kg lebih berat dari saya’ atau ‘teknik dia oke banget, sih.’ Sementara angka saya kok rasanya disitu-situ saja.

Saat saya ngobrol-ngobrol dengan mereka, saya sadar betapa bodoh pikiran-pikiran seperti ini. Saya lupa bahwa banyak faktor yang mempengaruhi seseorang, misalnya durasi seseorang menekuni olahraga ini, berat badan, kelenturan tubuh, dan sebagainya.

Saya belajar bahwa setiap orang itu berbeda. Tidak ada gunanya merasa minder, apalagi sombong terhadap progress orang lain. Hal terpenting adalah progress pribadi menuju goal yang diinginkan.

  1. Repetisi, repetisi, repetisi

If you don’t love the sport, I’d be very hard to stick with it. Mengapa? Karena satu-satunya cara untuk menjadi ahli adalah dengan melakukan hal yang sama berulang kali, dengan teknik yang lebih baik setiap kalinya. Sebagai orang yang gampang bosan, saya belajar: selama saya punya goal yang ingin saya capai, saya rela melakukan sesuatu yang sama berulang kali.

  1. Percaya diri

Seberapa kuatnya saya, tanpa rasa percaya diri bahwa saya bisa, saya tidak akan pernah mendapatkan personal record yang baru. Terkadang, saya ragu terhadap kemampuan saya sendiri dan hal ini kadang menjadi penghambat terbesar. Inilah mengapa, memiliki coach terkadang membantu. Mereka dapat melihat apakah kita sebenarnya mampu atau kita tidak bisa memang karena kita belum di taraf itu. Namun, tetap saja, pada akhirnya, kita harus percaya pada diri sendiri untuk menunaikan semuanya.

  1. Lupakan ego

Berapa kg yang bisa saya angkat bukanlah segalanya. Ada saatnya saya harus latihan hanya dengan pipa PVC atau bar tanpa beban demi memperbaiki beberapa posisi dan teknik yang berantakan. Dulu saya paling malas kalau harus melakukan ini. Sekarang, saya paham bahwa ada saatnya saya melupakan ego demi mencapai hasil yang lebih baik.

Bagi saya, weightlifting merupakan hobi yang telah menjelma menjadi jati diri dan mengajarkan saya banyak hal. Setiap sesi latihan mengajarkan saya menjadi seseorang yang lebih baik: mendengarkan diri sendiri, tidak sombong, dan percaya bahwa proses yang benar akan membuahkan hasil akhir yang baik, walaupun itu butuh waktu.